Setelah usai keputusan MK yang memenangkan pasangan Jokowi-Jk, media kini mulai marak membahas tentang bagaimana penunjukan menteri oleh presiden terpilih, serta tantangan paling besar yang akan dihadapi pemerintahan yg baru adalah postur APBN 2015 lebih khusus lagi masalah subsidi BBM yang salah satu solusinya adalah dengan mencoba menaikkan harga BBM dari 6.500 jadi 8.000 atau 9.000/liter tepatkah kebijakan ini berikut tulisan tahun 2008 yg saat ini menjabat Menkeu KIB jilid 2 :
* Dilema Kebijakan Ekonomi ** Oleh : Muhammad Chatib Basri, Direktur LPEM
FEUI
Pagi ini mungkin baik kita mengingat kalimat kuno dari mantan Presiden
Perancis Charles De Gaulle,* to govern is always to choose among
disadvantages *(memerintah berarti memilih di antara pilihan yang tak
menyenangkan). Pilihan kebijakan memang jadi semakin sulit.
Kenaikan konsumsi energi telah mendorong peralihan produksi dari makanan
kepada biofuel. Perubahan iklim juga telah mengakibatkan produksi pangan
dunia menurun. Dapat diduga, harga komoditi melonjak seiring dengan naiknya
harga energi. Untuk menjamin pasokan dan harga domestik, beberapa negara
lalu memutuskan melarang ekspor. Tak salah memang. Namun, bila sebagian
besar negara memilih langkah ini, ketersediaan pangan di pasar dunia akan
semakin terbatas, akibatnya harga akan semakin melangit. Situasi eksternal
yang tak bersahabat ini tampaknya masih akan bersama kita kedepan.
Indonesia, juga berada dalam yang amat dilematis. Tekanan harga minyak dan
komoditi membuat beban subsidi pemerintah melonjak dan stabilitas makro
dipertanyakan. Kita punya dua soal, pertama, bagaimana menjaga daya beli
kelompok miskin akibat tekanan kenaikan harga pangan? Kedua, bagaimana
menjaga stabilitas ekonomi makro?
Pertama, perhitungan dari data SUSENAS menunjukkan bahwa porsi pengeluaran
untuk makanan di kelompok yang paling miskin (decile 1) adalah sebesar 29.5%
dari total pengeluaran mereka. Sedangkan di kelas menengah keatas hanya
sebesar 16.1%. Artinya kenaikan harga makanan akan sangat memukul mereka
yang miskin. Itu sebabnya bantuan atau subsidi kepada penduduk miskin harus
dilakukan. Sayangnya, anggaran terbatas. Kalau begitu, mengapa pemerintah
tidak mengurangi sedikit subsidi premium dan mengalihkannya kepada makanan?
Porsi konsumsi premium jelas lebih kecil dibanding porsi konsumsi makanan di
dalam keranjang konsumsi penduduk miskin. Mekanismenya, bisa melalui program
*cash for work*, dimana pemerintah menyediakan lapangan kerja, dalam periode
waktu tertentu, bagi penduduk miskin melalui program pembangunan
infrastruktur desa seperti irigasi dalam skala kecil, konservasi tanah,
pembangunan jalan desa atau program* reforestation*, Bantuan Langsung Tunai,
subsidi pangan seperti raskin.
Kedua, dalam kaitan stabilitas ekonomi makro, harga minyak yang tinggi telah
menimbulkan* inflation overhang*. Pelaku ekonomi menganggap: dengan harga
minyak dan komoditi yang tinggi, inflasi akan meningkat. Selain itu akan ada
tekanan yang kuat pada anggaran kita, sehingga dibutuhkan pembiayaan yang
lebih besar pula. Padahal kita tahu, dalam situasi pasar keuangan dunia yang
bergejolak seperti ini, pembiayaan dari pasar tak mudah dan biayanya relatif
lebih mahal. Ekspektasi inflasi yang tinggi akan mendorong depresiasi.
Akibatnya rupiah akan melemah. Pelemahan rupiah yang tajam dapat menganggu
stabilitas makro, inflasi naik dan pertumbuhan ekonomi menurun.
Diskusi di Asian Economic Panel di Seoul juga mengingatkan, dalam situasi
ketidakpastian akibat krisis *sub-prime,* ketidakstabilan makro dapat
mendorong terjadinya arus modal keluar secara tiba-tiba. Ini jelas berisiko.
Karena itu pemerintah harus berupaya mengurangi subsidi BBM. Ada dua cara,
melalui pembatasan kuantitas seperti program *smart card *dan subsidi
terbatas kepada kendaraan angkutan umum atau melalui mekanisme harga.
Pemerintah sendiri menyatakan kenaikan BBM adalah pilihan terakhir dan lebih
memilih pembatasan kuantitas. Sayangnya, kita tahu pembatasan kuantitas
membutuhkan administrasi dan pengawasan yang tinggi -sesuatu yang kerap kali
pemerintah lemah. Pilihan *smart card* misalnya, menuntut dilakukannya
pendaftaran jutaan kendaraan. Bisa dibayangkan betapa rumit proses
administrasinya. Pilihan pemberian BBM bersubsidi hanya kepada kendaraan
angkutan umum juga tak kurang rumitnya: kendaraan yang bukan angkutan umum
harus membeli Pertamax yang harganya nyaris dua kali lipat Premium. Artinya
beban kenaikan harga yang harus ditanggung masyarakat tinggi sekali.
Bukankah ini jauh lebih memberatkan? Selain itu apakah semua SPBU dapat
menyediakan Pertamax dalam waktu singkat? Di sini terlihat bahwa pembatasan
kuantitas amat sulit dilakukan dan lebih membebani masyarakat. Pilihan
rasional yang tersisa adalah melalui mekanisme harga. Secara admnistrasi
lebih mudah dan transparan. Dengan kebijakan ini ada beberapa hal yang dapat
diperoleh. Pertama, setiap kenaikan Premium sebesar Rp 500 akan meningkatkan
penerimaan pemerintah sebesar Rp 9 trilyun yang dapat digunakan untuk
membantu meningkatkan daya beli penduduk miskin. Kedua, kenaikan harga akan
menurunkan insentif untuk penyelundupan. Selain itu -walau terbatas-
kenaikan harga juga akan mengurangi konsumsi BBM. Menurunnya penyelundupan
dan konsumsi akan membuat impor BBM menurun. Akibatnya rupiah akan menguat.
Penguatan rupiah akan membuat inflasi dapat dikendalikan.
Dari perspektif ekonomi makro, pilihan ini akan mengatasi problema inflation
overhang. dan mengembalikan stabilitas ekonomi makro. Tentu pilihan ini ada
dampaknya. Kenaikan harga Premium dan solar sebesar 10% misalnya akan
meningkatkan inflasi sekitar 1%. Jika kenaikan tidak terlalu besar, dampak
pada inflasi terbatas. Kenaikan harga juga harus dikompensasi dengan program
untuk penduduk miskin, sehingga dampak negatif dapat diatasi dan daya beli
penduduk miskin yang terpukul karena harga pangan, dapat di kompensasi.
Saya tahu, ini bukan pilihan mudah. Tetapi di hari-hari ketika situasi
eksternal tak bersahabat, kita memang dihadapkan pada pilihan sulit. Pilihan
ini mungkin terkesan tak populer, sebuah pilihan yang sepi, tak ramai
dijejaki orang. Mirip bait akhir puisi Rober Frost, The Road Not Taken:
* “I took the one less travelled by And that has made all the difference”*.
* Tulisan ini dimuat di Analisis Ekonomi Kompas, Senin 28 April 2008.
Silahken menilai sendiri.
one question: pernah dalam masa krisis, pemerintah memangkas gaji para pejabat, para anggota DPR???
My Respect Blog
Blog ini di dedikasikan bagi semua orang dari berbagai kalangan yang punya tujuan dan semangat RESPECT culture
Senin, 25 Agustus 2014
Rabu, 30 Oktober 2013
Ungkapan Dalam Mendidik Anak
Jika anak di besarkan dengan celaan, ia belajar memaki
Jika anak di besarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi
Jika anak di besarkan dengan ketakutan, ia belajar gelisah
Jika anak di besarkan dengan rasa iba, ia belajar menyesali diri
Jika anak di besarkan dengan olok-olok, ia belajar rendah diri
Jika anak di besarkan dengan dipermalukan, ia belajar merasa bersalah
Jika anak di besarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri
Jika anak di besarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri
Jika anak di besarkan dengan pujian, ia belajar menghargai
Jika anak di besarkan dengan penerimaan, ia belajar mencinta
Jika anak di besarkan dengan dukungan, ia belajar menenangi diri
Jika anak di besarkan dengan pengakuan, ia belajar mengenali tujuan
Jika anak di besarkan dengan rasa berbagi, ia belajar kedermawaan
Jika anak di besarkan dengan kejujuran dan keterbukaan, ia belajar kebenaran dan keadilan
Jika anak di besarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak di besarkan dengan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan
Jika anak di besarkan dengan ketentraman, ia belajar berdamai dengan pikiran
Antara Ayah, Anak dan Burung Gagak
Pada suatu petang seorang tua bersama anak mudanya yang baru menamatkan
pendidikan tinggi duduk berbincang-bincang di halaman sambil memperhatikan suasana di
sekitar mereka.
Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pokok berhampiran. Si ayah lalu
menuding jari ke arah gagak sambil bertanya,
“Nak, apakah benda itu?”
“Burung gagak”, jawab si anak.
Si ayah mengangguk-angguk, namun sejurus kemudian sekali lagi mengulangi
pertanyaan yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi, lalu
menjawab dengan sedikit kuat,
“Itu burung gagak, Ayah!”
Tetapi sejurus kemudian si ayah bertanya lagi pertanyaan yang sama.
Si anak merasa agak keliru dan sedikit bingung dengan pertanyaan yang sama
diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih kuat,
“BURUNG GAGAK!!” Si ayah terdiam seketika.
Namun tidak lama kemudian sekali lagi sang ayah mengajukan pertanyaan yang
serupa hingga membuat si anak hilang kesabaran dan menjawab dengan nada yang kesal
kepada si ayah,
“Itu gagak, Ayah.” Tetapi agak mengejutkan si anak, karena si ayah sekali lagi
membuka mulut hanya untuk bertanya hal yang sama. Dan kali ini si anak benar-benar hilang
sabar dan menjadi marah.
“Ayah!!! Saya tak tahu Ayah paham atau tidak. Tapi sudah 5 kali Ayah bertanya soal
hal tersebut dan saya sudah juga memberikan jawabannya. Apa lagi yang Ayah mau saya
katakan????
Itu burung gagak, burung gagak, Ayah…..”, kata si anak dengan nada yang begitu marah.
Si ayah lalu bangun menuju ke dalam rumah meninggalkan si anak yang
kebingungan.
Sesaat kemudian si ayah keluar lagi dengan sesuatu di tangannya. Dia mengulurkan benda itu
kepada anaknya yang masih geram dan bertanya-tanya. Diperlihatkannya sebuah diary lama.
“Coba kau baca apa yang pernah Ayah tulis di dalam diary ini,” pinta si Ayah.
9
Si anak setuju dan membaca paragraf yang berikut.
“Hari ini aku di halaman melayani anakku yang genap berumur lima tahun. Tiba-tiba
seekor gagak hinggap di pohon berhampiran. Anakku terus menunjuk ke arah gagak dan
bertanya,
“Ayah, apa itu?”
Dan aku menjawab,
“Burung gagak.”
Walau bagaimana pun, anakku terus bertanya soal yang serupa dan setiap kali aku
menjawab dengan jawaban yang sama. Sehingga 25 kali anakku bertanya demikian, dan demi
rasa cinta dan sayangku, aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya.
“Aku berharap hal ini menjadi suatu pendidikan yang berharga untuk anakku kelak.”
Setelah selesai membaca paragraf tersebut si anak mengangkat muka memandang wajah si
Ayah yang kelihatan sayu. Si Ayah dengan perlahan bersuara,
“Hari ini Ayah baru bertanya kepadamu soal yang sama sebanyak 5 kali, dan kau
telah hilang kesabaran serta marah.”
Lalu si anak seketika itu juga menangis dan bersimpuh di kedua kaki ayahnya
memohon ampun atas apa yg telah ia perbuat.
PESAN:
Jagalah hati dan perasaan kedua orang tuamu, hormatilah mereka.
Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangimu di waktu kecil.
Kita sudah banyak mempelajari tuntunan Islam apalagi berkenaan dengan berbakti
kepada kedua orangtua.Tapi berapa banyak yang sudah dimengerti oleh kita apalagi
diamalkan???
Ingat! ingat! Banyak ilmu bukanlah kunci masuk syurganya Allah.
Selasa, 22 Oktober 2013
Lupa Bawa Seragam Tandang, Tim Sepakbola Ini Terpaksa Beli Jersey di Kaki Lima
Bogota - Sebuah kisah unik terjadi di Kolombia. Akibat lupa membawa seragam laga tandang tim, sebuah klub sepakbola mesti membeli jersey timnya sendiri dari pedagang kaki lima (PKL).
Independiente Santa Fe, demikian nama klub dalam kisah yang terjadi pada akhir pekan lalu tersebut. Saat itu Santa Fe sedang menjalani laga lawatan ke markas rival beratnya, Boyaca Chico, di kompetisi Kolombia.
Masalah berawal ketika Santa Fe ternyata lupa membawa seragam tandangnya ke laga lawatan tersebut. Demi menghindari kesamaan warna, Santa Fe sebenarnya sempat menawarkan tampil dengan seragam kandangnya saja--yang tidak lupa dibawa. Tetapi ide tersebut ditolak mentah-mentah oleh kubu Chico selaku tuan rumah karena tak mau tampil dengan seragam tandang.
Dilaporkan Reuters, Santa Fe pun kemudian terpaksa memulai pertandingan dengan menggunakan seragam latihannya yang bernuansa abu-abu, dengan balutan selotip di bagian belakang menjadi penanda nomor punggung mereka.
Di saat yang sama, seorang asisten dari kubu Santa Fe rupanya juga sudah diinstruksikan untuk mencari penjaja jersey yang biasa mangkal di sekitar stadion. Tujuannya tentu saja untuk mencari dan membali seragam tandang tim Santa Fe, walaupun tentu saja kualitasnya tidak orisinil alias duplikat, yang sepotongnya dibanderol 12 ribu peso Kolombia (Rp 70 ribu).
Menariknya lagi, bagian nomor punggung pun kemudian masih mencirikan situasi darurat dari Santa Fe di laga ini karena harus ditulis dengan spidol warna merah.
Akan tetapi, Santa Fe pada prosesnya bisa tertawa paling akhir karena menyudahi pertandingan dengan kemenangan 2-0 atas sang rival.
"Kami gembira karena Chico tak mau membantu masalah kami dan malah berusaha mengambil keuntungan dari situasi kami," tutur Pablo Garcia selaku juru bicara Santa Fe kepada Reuters.
Bogota - Sebuah kisah unik terjadi di Kolombia. Akibat lupa membawa seragam laga tandang tim, sebuah klub sepakbola mesti membeli jersey timnya sendiri dari pedagang kaki lima (PKL).
Independiente Santa Fe, demikian nama klub dalam kisah yang terjadi pada akhir pekan lalu tersebut. Saat itu Santa Fe sedang menjalani laga lawatan ke markas rival beratnya, Boyaca Chico, di kompetisi Kolombia.
Masalah berawal ketika Santa Fe ternyata lupa membawa seragam tandangnya ke laga lawatan tersebut. Demi menghindari kesamaan warna, Santa Fe sebenarnya sempat menawarkan tampil dengan seragam kandangnya saja--yang tidak lupa dibawa. Tetapi ide tersebut ditolak mentah-mentah oleh kubu Chico selaku tuan rumah karena tak mau tampil dengan seragam tandang.
Dilaporkan Reuters, Santa Fe pun kemudian terpaksa memulai pertandingan dengan menggunakan seragam latihannya yang bernuansa abu-abu, dengan balutan selotip di bagian belakang menjadi penanda nomor punggung mereka.
Di saat yang sama, seorang asisten dari kubu Santa Fe rupanya juga sudah diinstruksikan untuk mencari penjaja jersey yang biasa mangkal di sekitar stadion. Tujuannya tentu saja untuk mencari dan membali seragam tandang tim Santa Fe, walaupun tentu saja kualitasnya tidak orisinil alias duplikat, yang sepotongnya dibanderol 12 ribu peso Kolombia (Rp 70 ribu).
Menariknya lagi, bagian nomor punggung pun kemudian masih mencirikan situasi darurat dari Santa Fe di laga ini karena harus ditulis dengan spidol warna merah.
Akan tetapi, Santa Fe pada prosesnya bisa tertawa paling akhir karena menyudahi pertandingan dengan kemenangan 2-0 atas sang rival.
"Kami gembira karena Chico tak mau membantu masalah kami dan malah berusaha mengambil keuntungan dari situasi kami," tutur Pablo Garcia selaku juru bicara Santa Fe kepada Reuters.
Langganan:
Postingan (Atom)