Rabu, 30 Oktober 2013

Ungkapan Dalam Mendidik Anak


Jika anak di besarkan dengan celaan, ia belajar memaki
Jika anak di besarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi
Jika anak di besarkan dengan ketakutan, ia belajar gelisah
Jika anak di besarkan dengan rasa iba, ia belajar menyesali diri
Jika anak di besarkan dengan olok-olok, ia belajar rendah diri
Jika anak di besarkan dengan dipermalukan, ia belajar merasa bersalah
Jika anak di besarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri
Jika anak di besarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri
Jika anak di besarkan dengan pujian, ia belajar menghargai
Jika anak di besarkan dengan penerimaan, ia belajar mencinta
Jika anak di besarkan dengan dukungan, ia belajar menenangi diri
Jika anak di besarkan dengan pengakuan, ia belajar mengenali tujuan
Jika anak di besarkan dengan rasa berbagi, ia belajar kedermawaan
Jika anak di besarkan dengan kejujuran dan keterbukaan, ia belajar kebenaran dan keadilan
Jika anak di besarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak di besarkan dengan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan
Jika anak di besarkan dengan ketentraman, ia belajar berdamai dengan pikiran

Antara Ayah, Anak dan Burung Gagak


Pada suatu petang seorang tua bersama anak mudanya yang baru menamatkan
pendidikan tinggi duduk berbincang-bincang di halaman sambil memperhatikan suasana di
sekitar mereka.
Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pokok berhampiran. Si ayah lalu
menuding jari ke arah gagak sambil bertanya,
“Nak, apakah benda itu?”
“Burung gagak”, jawab si anak.
Si ayah mengangguk-angguk, namun sejurus kemudian sekali lagi mengulangi
pertanyaan yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi, lalu
menjawab dengan sedikit kuat,
“Itu burung gagak, Ayah!”
Tetapi sejurus kemudian si ayah bertanya lagi pertanyaan yang sama.
Si anak merasa agak keliru dan sedikit bingung dengan pertanyaan yang sama
diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih kuat,
“BURUNG GAGAK!!” Si ayah terdiam seketika.
Namun tidak lama kemudian sekali lagi sang ayah mengajukan pertanyaan yang
serupa hingga membuat si anak hilang kesabaran dan menjawab dengan nada yang kesal
kepada si ayah,
“Itu gagak, Ayah.” Tetapi agak mengejutkan si anak, karena si ayah sekali lagi
membuka mulut hanya untuk bertanya hal yang sama. Dan kali ini si anak benar-benar hilang
sabar dan menjadi marah.
“Ayah!!! Saya tak tahu Ayah paham atau tidak. Tapi sudah 5 kali Ayah bertanya soal
hal tersebut dan saya sudah juga memberikan jawabannya. Apa lagi yang Ayah mau saya
katakan????
Itu burung gagak, burung gagak, Ayah…..”, kata si anak dengan nada yang begitu marah.
Si ayah lalu bangun menuju ke dalam rumah meninggalkan si anak yang
kebingungan.
Sesaat kemudian si ayah keluar lagi dengan sesuatu di tangannya. Dia mengulurkan benda itu
kepada anaknya yang masih geram dan bertanya-tanya. Diperlihatkannya sebuah diary lama.
“Coba kau baca apa yang pernah Ayah tulis di dalam diary ini,” pinta si Ayah.
9
Si anak setuju dan membaca paragraf yang berikut.
“Hari ini aku di halaman melayani anakku yang genap berumur lima tahun. Tiba-tiba
seekor gagak hinggap di pohon berhampiran. Anakku terus menunjuk ke arah gagak dan
bertanya,
“Ayah, apa itu?”
Dan aku menjawab,
“Burung gagak.”
Walau bagaimana pun, anakku terus bertanya soal yang serupa dan setiap kali aku
menjawab dengan jawaban yang sama. Sehingga 25 kali anakku bertanya demikian, dan demi
rasa cinta dan sayangku, aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya.
“Aku berharap hal ini menjadi suatu pendidikan yang berharga untuk anakku kelak.”
Setelah selesai membaca paragraf tersebut si anak mengangkat muka memandang wajah si
Ayah yang kelihatan sayu. Si Ayah dengan perlahan bersuara,
“Hari ini Ayah baru bertanya kepadamu soal yang sama sebanyak 5 kali, dan kau
telah hilang kesabaran serta marah.”
Lalu si anak seketika itu juga menangis dan bersimpuh di kedua kaki ayahnya
memohon ampun atas apa yg telah ia perbuat.
PESAN:
Jagalah hati dan perasaan kedua orang tuamu, hormatilah mereka.
Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangimu di waktu kecil.
Kita sudah banyak mempelajari tuntunan Islam apalagi berkenaan dengan berbakti
kepada kedua orangtua.Tapi berapa banyak yang sudah dimengerti oleh kita apalagi
diamalkan???
Ingat! ingat! Banyak ilmu bukanlah kunci masuk syurganya Allah.

Selasa, 22 Oktober 2013

Lupa Bawa Seragam Tandang, Tim Sepakbola Ini Terpaksa Beli Jersey di Kaki Lima

Bogota - Sebuah kisah unik terjadi di Kolombia. Akibat lupa membawa seragam laga tandang tim, sebuah klub sepakbola mesti membeli jersey timnya sendiri dari pedagang kaki lima (PKL).

Independiente Santa Fe, demikian nama klub dalam kisah yang terjadi pada akhir pekan lalu tersebut. Saat itu Santa Fe sedang menjalani laga lawatan ke markas rival beratnya, Boyaca Chico, di kompetisi Kolombia.

Masalah berawal ketika Santa Fe ternyata lupa membawa seragam tandangnya ke laga lawatan tersebut. Demi menghindari kesamaan warna, Santa Fe sebenarnya sempat menawarkan tampil dengan seragam kandangnya saja--yang tidak lupa dibawa. Tetapi ide tersebut ditolak mentah-mentah oleh kubu Chico selaku tuan rumah karena tak mau tampil dengan seragam tandang.

Dilaporkan Reuters, Santa Fe pun kemudian terpaksa memulai pertandingan dengan menggunakan seragam latihannya yang bernuansa abu-abu, dengan balutan selotip di bagian belakang menjadi penanda nomor punggung mereka.

Di saat yang sama, seorang asisten dari kubu Santa Fe rupanya juga sudah diinstruksikan untuk mencari penjaja jersey yang biasa mangkal di sekitar stadion. Tujuannya tentu saja untuk mencari dan membali seragam tandang tim Santa Fe, walaupun tentu saja kualitasnya tidak orisinil alias duplikat, yang sepotongnya dibanderol 12 ribu peso Kolombia (Rp 70 ribu).

Menariknya lagi, bagian nomor punggung pun kemudian masih mencirikan situasi darurat dari Santa Fe di laga ini karena harus ditulis dengan spidol warna merah.

Akan tetapi, Santa Fe pada prosesnya bisa tertawa paling akhir karena menyudahi pertandingan dengan kemenangan 2-0 atas sang rival.

"Kami gembira karena Chico tak mau membantu masalah kami dan malah berusaha mengambil keuntungan dari situasi kami," tutur Pablo Garcia selaku juru bicara Santa Fe kepada Reuters.